Sabtu, 26 Agustus 2017

Perkembangan Kedokterana, Geografi dan Astronomi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Warisan peradaban islam merupakan salah satu warisan peradaban yang sangat berhaga bagi peradaban Dunia. Dalam perkembangannya peradaban Islam berkembang sedikit demi sedikit, dan mulia belajar dengan peradaban-peradaban di sekelilingnya. Dalam perkembanganya peradaban islam dimulai ketika Islam mulai ada dan berkembang melalui beberapa pemerintahan seperti Khulafaur Rasyddin, Daulah bani Umayyah dan Daulah Bani Abbasiyah. Warisan Peradaban Islam yang di anggap sangat berharga diantaranya adalah Kedokteran, Astronomi dan Geografi. Tetapi pada awalnya ilmu-ilmu tersebut suda adajauh sebelum Islam ada sepeti Astromi pada masa Yunani. Namun ketika ilmu tersebut mulai di serap oleh Islam, para ilmua Muslim tidak hanya statis menerima apa yang ada. Namun berhasi mengembangkan, memperbaiki dan menyempurnakan ilmu-ilmu tersebut sehingga dapat menjadi sumbangsih yang sangat bersar bagi peradaban Dunia
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai perkembangan ilmu tersebut, yaitu Arsitektur, Astronomi dan Geografi
.   
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Pekembangan Ilmu Kedokteran?
2.      Bagaimana Pekembangan Ilmu Geografi?
3.      Bagaimana Pekembangan Ilmu Astronomi?



BAB II
PEMBAHASAN


    A.    Perkembangan Ilmu Kedokteran
Study kedoktran yang berkembang di era modern ini merupakan puncak dari juataan manusia, baik dikenal maupun tidak sejak ribuan tahun silam. Cikal bakal ilmu kedokteran suah ada sejak peradaban msir kuno, yunani, Persia, India serta Cina dengan dasar-dasar imu kedokteran yang sederhana.  Tapi peradaban kilmuan, khusunnya dalam bidang kedokteran yang dicapai oleh bangsa-bangas tersebut akhirnya bergeser ke zaman pertengahan, yang pada waktu itu peradaban berada di tangan Islam, diaman semua ilmu pengetahuan mendapatkan perhatian tak terkecuali ilmu kedokteran.
Ilmu Kedokteran termasuk ilmu yang telah melesat perkembangannya, dimana kum muslim telah  memberikan sumbangsih laur biasa pada masa peradaban mereka yang cemerlang. Sumbangan terse ut belum pernah dilakukan secara menyeluruh, unggul dan tebukti dalam perjalana sejarah. Kedokteran islam bukan hanya mendiagnosa dan mengobati penyakit saja, tetapi meliputi dasar-dasar metode eksperimen, meringankan dan memberikan obat-obatan atau menjauhkan manusia dari pola hidup buruk dengan melkasanakan anjuran kedokteran.
Pada ilmuan kedokteran kaum muslim mempunyai keistimewaan. Merekalah yang petmana kali mengetahui spesialisasi kedokteran. Dianytaranya adalah dokter spesialis Mata, spesialis bedah, spesialis bekam, spesialis Wanita dan sebagainya. Pada masa Abbasiyah kamum muslim mulai memperbarui cabang imu kedokteran. Mereka mulaimeneliti dan meluruskan kesalah pahaman para ilmuan dulu sesuai dengan teori yang mereka temukan. Mereka juga tidak hanya menerjemah dan menaukil saja, tetapi juga memperbaiki pembahasan dan membenarkan kesalahan ilmuan-ilmuan terdahulu
Para sejarawan menetapkan bahwa Ali bin Isa Al-Kahal merupakan seorang doctor spesialis mata terbesar dalam abad petengahan dengan keahliannya. Abu Qosim Az-Zahrawi adalah orang pertama yang menemukan teori pembendahan dengan menemukan dan menggunakan suntik dan alat-alat bedah, ia mendirikan tempat praktik dan pemeriksaan. Dia juga orang pertama yang menggunakan cermin muka ( teleskop ringan) dan karyannya At-Tashrif Kiman Ajiza an Ta’lif.. kemudain Ibnu Sina yang menemukan berbagai macam penyakit dan tatacara pengobannya, daiantaranya adalah penyakit menular seperti cacar dan campak. Ibnu Sina juga merupaka orang pertama yang memukan imu tentang parasit dan mempunyai kedudukan dalam dunia kedokteran modern. Dia juga menjelaskan radang otak, penyakit kangker dan pembengkakan limpa.[1]
    B.     Perkebangan Geografi
Gografi adalah imu yang diperkenalkan petama kali oleh bangsa Yunani muali dari Thales, plato, Herodotus hingga akhirnya Erasththenes yang memperkenalkan istilah geografi untuk pertama kali dengan sebutan geographica. Pada mulanya ilmu geografi mebahas tentang bentuk Bumi itu sendiri, dimulai dari penyataan bahwa bumi itu datar dan bumi itu bulat. Dalam perkembangannya Bangsa Yunani berpendapat bahwa Bumi itu bulat dan pipih dan para agamawan gereja perpendapat bahwa bumi itu datar sepert meja, dan apabila telah sampai pada ujung dunia, maka akan ada jurang yang sangat dalam, namun argument itu sama sekali tidak terbukti.
Ketika peradaban Islam datang, mereka menguatkan teori bahwa bumi itu bulat, karean dalam Al-Qur’an sendiri telah mengisyaratkan berbagai macam bentuk bulatan bumi. Ibnu Kharzabah mengatakan bahwa bumi berputar sebagaimana putaran bola. Ibnu Rustah (290 H), mengatakan “ Allah memetakan galaksi berputar sebeti berputarnya bola, tengah tengah perputaran bumi, bumi juga berputar dan dan tempat diamnya di tengah galaksi tatasurya.
Selain perdebatan mengenia bentuk bumi, umat islam juga bersumbangsih besar terhadap pegmbaran peta dunia, seperti yang telah digambarkan oleh Al-Idris yang merupakan peta paling hebat dari nilai-nili pemikiran ilmu gambar pada masa pertengahan. Belum pernah ada peta yang digambarkan lebis sempurna sebelum itu; lebih detail, lebih luas dan besar secara terperinci. Al-Idris juga salah satu ilmuan yang menguatkan tentang bumi itu bulat.
Pada masa kehalifahan Al-Makmun yang memerintahkan para geographer untuk mengukur jarak bumi. Sebagai hasilnya adalah pembuatan glober pertama oleh Al-Khawarism dan rekan-rekannyai. Selain itu kesalah perdiksi Al-Makmun tentang luas daratan dibumi tidak mencapau 3%. Setelah itu lebih banyak bermunculan ahli geografi dengan banyak karya-karyanua.

    C.    Perkembanga Ilmu Astronomi
Astronomi meupakan ilmu yang mempelajari tentang tata matahari, bulan, bintang dan pelanet-pelanet lain[2] yang bertujuan untuk mengetahui posisi benda langit agar waktu-waktu permukaan bumi dapat diketahua. Sedangjan dalam islam sendiri ilmu astronomi timbul untuk mempelajari waktu-waktu Sholat sesuai dengan kondisi letak geografis dan perubahan musim.[3]
Jejak astonomi ditemukan pada tahun 3500 SM dalam peradaban bangsa Sumeria dan Babilonia yang tinggal di Mesopotamia. Sekitar tahun 500 SM astronomi sudah dikenal oleh Masyarakat India kuno. Sedangkan masyarakat Cina dan Yunani yang sudah mengenal astronomi mulai abad ke 4 SM dan ke 6 SM.[4] Tokoh pada masa itu adalah Aristoteles dan Claudius Ptolemeus sebagia penganut Faham Geosentris.
Ilmu astronomi ( Ilmu Falaq) pertama kali ditemukan oleh Nabi Idris, sebagaiaman yang dikemukakan dalam kitab-kitab ilmu falak. Namu Embrio ilmu astronomi mulai tampak sekitar abad ke 8 SM. Digunakan untuk menentukan waktu penyembahan berhala seperti Mesir, Babilonia dan Mesoptamia.[5]
Ilmu astronomi dalam islam muncul dengan gemilang pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah karena adanya hubungan orang-orang arab dengan berbagai macam kebudayaan dunia dan mereka juga menyalin dari kirab-kitab klasik karangan orang-orang India dan Yunani. Para ilmuan muslim mulai melakukan penelitian astronomi berdasarkan Al-Qur’an surat Yasin ayat 38 dan Surat Yunus Ayat 5. Semua ayat menghadirkan fakta ilmiah yang mustahil orang untuk sanggup memahaminya atau sekedar mencoba menafsirkannya selagi tidak mempunyai atau menguasai ilmu yang luas tentang astronmi (Falak).
Buku astronomi yang pertma kali ditejemahkan oleh para ilmuan Muslim adalah Mufatih An-Nujum yang dinisbatkan kepada hermes yang agung yang berasal dari Yunani, hal ini terjadi pada masa akhir pemerintahan Daulah Umayyah.[6] Seorang pengembara India menyerahkan sebuah data buku astronimi berjudul Sindhid atau Sindhata kepada kerajaan Islam di Baghdad pada tahun 773 M. kemudian ditejemahkan kedalam bahasa arab oleh Muhammad Ibn Ibrahim al-Farazi atas perintah Ja’far Al- Mansur. Dan kemudian al-Farazi dikenal sebagai ahli astronomi pertama di Dunia Islam.
Para ilmua muslim yang mempunyai penemuna dalam bidang astronomi antara lain adalah
1.      Abu Ma’syur penemu adanya pasang naik dan pasang surut sebagai akibat dari pergerakan bulan terhadap Bumi
2.      Nasirudiin Muhammad at Thusi ahli astronomis ialm yang memabangun obsevatorium di Maragha atas peritah Hulagu. Dai juga membuat table data astronomi benda benda langit
3.      Ibnu Jabar al-battani yang melakukan penghitunga-penghitungan jalan bintang, garis edar dan gerhana. Dia membuktikan terjadinya gerhana matahari cincin, menetapkan garis kemiringan perjalanan matahari dll[7]
4.      Abdur rahman al-Biruni memenukan perputaran bumi pada sumbunnya dan membuat daftar data lntang dan bujur tempat dipermukaan bumi.



BAB III
PENUTUP

    A.    Kesimpulan
1.      Embrio ilmu kedokteran sudah ada sejak masa Yunani, Cina, Mesir Kuna. Namun setelah ilmu kedokteran masuk dalam perkembangan ilmu Islam, kedokteran semakin berkembang terbukti dengan ditemukannya alat bedah pertama dan pemnemuna berbagai macama penyakit menular
2.      Dalam perkembangan ilmu geografi yang menjadi perdebatan mengeni bentuk bumi, banyak diantara ilmuan terdahulu meperdebatkan atara bumi datar dengan bumi yang berbentu bulat, dan islam datang dengan pendapat bahwa bumi bulat dan deijaksana sedang bukti-bukti
3.      Astromi daalm awal perkembangannya juga sudah ada sejak zaman Yunani, namun oleh Islam untuk memntukan waktu-waktu sholat di berbagai tempat dimuka bumi, maak ilmu astronomi semakin dikembangkan, hal ini dengan bukti berbagai penemuna rasi bintang dan lain sebagainya.




[1] As-Sirjani, Raghib Sumbangan peradaban Islam pada Dunia, tej Sonif dkk (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2011), hal  275
[2] Dendy Sugono. Kamus Besar Bahsa Indonesia (Jakarta: Pusar Bahasa 2008) hal. 100
[3] As-Sirjani, Raghib Sumbangan peradaban Islam pada Dunia, tej Sonif dkk (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2011), hal  315
[4] Baharudi Zainal. Pengenalan Ilmu Falak. (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka), Hal. 21
[5] Ibid, hl 86
[6] As-Sirjani, Raghib,. 316
[7] Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1992) , hal. 34

Makalah Wahabi

BAB I
PENDAHULUAN

   A.    Latar Belakang
Gerakan merupakan suatu wadah yang tercipta karena adanya kesamaan ideologi dengan adanya saling mempengaruhi dan satu tujuan yang sama. Dalam ritemnya Gerakan terbagi menjadi 3 ritme. Pertama: Gerakan Akomodatif yang merupaka sebuah gerakan yang melakuan perubahan secara lambat namun gerakan ini akan sanagt lambat dalam melaksanakan perubahannya, namundengan keuntungan gerakan ini tidak meresahkan masyarakat. Kedua: Gerakan Reformis yang merupakan gerakan yang melakuakan perubahan secara sedang, tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat, gerakan ini mempunyai resiko akan terjadinya konflik sosial namun lebih cepat dari pada gerakan akomodatif. Ketiga: Gerakan Radikal merupakan gerakan yang melakuakn perubahan secara besar-besaran (Cepat), dengan keuntungan gerakan ini akan sangat cepat melakukan perubahan dengan tantangan akan sangat banyak pertentangan dan sangat meresahkan masyarakat karena melakukan perubahan dengan merubah apa yang sudah ada dalam masyarakat secara total dan cepat.
Gerakan Wahabi jika dipilih dari salah satu ritme gerakan diatas merupaka gerakan Radikal karena gerakan ini merupakan gerakan yang secara derastis merubah keadaan masayarakat yang ada, menajdi yang mereka fikirkan dan terjadi dengan sangat cepat. Dan sangat menuai banyar pertentangan. Gerakan wahabi menyerukan pemurnian ajaran Islam karean mereka menganggap keadaan pada saat itu sudah sangat menjauhi ajaran agama Islam yang murni. Lebih lanjut gerakan ini akan dijelaskan dalam makalah ini.

   B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Awal Munculnya Gerakan Wahabi?
2.      Siapa Pendiri gerakan Wahabi?
3.      Bagaimana Kelahiran Sang Pendiri Gerakan Wahabi?
4.     Bagaimana Pemikiran gerakan Wahabi?







BAB II
PEMBAHASAN

   A.    Awal Munculnya Gerakan Wahabi
Istilah Wahabi sebenarnya diberikan oleh musuh-musuh aliran ini. Pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri menyebut diri mereka dengan nama “al-muslimun” atau “al-muwahhidun” yang berarti mendukung ajaran yang memurnikan ajaran ketauhidan Allah SWT. Meraka juga menyebut diri mereka sebagai pengikut madzhab Hanbali atau ahl al-salaf.
Pribadi Muhammad bin Abdul Wahhab, sebagai pelopor gerakan tersebut sering dipersonifikasikan sebagai seorang yang radikal ekstrim dalam mengemukakan gagasannya. Bahkan lebih ironisnya lagi Muhammad bin abdul Wahhab difitnah seakan-akan membawa agama baru.[1]
Timbulnya gerakan ini tidak lepas dari keadaan politik, perilaku keagamaan, dan sosial ekonomi umat Islam. Secara politik, umat Islam diseluruh kawasan kekuasaan Islam berada dalam keadaan yang lemah. Turki Usmani yang menjadi penguasa tunggal saat itu sedang mengalami kemunduran. Banyak daerah kekuasaannya yang melepaskan diri, terutama daerah-daerah diwilayah Eropa, begitu pula yang terjadi di daerah timur. Keadaan ini mengakibatkan banyak munculnya emirat-emirat kecil yang ingin menguasai daerah-daerah tertentu.[2] Negri-negri Islam satu demi satu menjadi barang makanan yang dibagikan oleh kaum imperalis, persis seperti apa yang disindir oleh Hadits Rosulullah, bahwa suatu saat umat Islam akan diperebutkan ibarat makanan diatas pinggang, karna kualitasnya menurun, walaupun kuantitasnya menunjukkan tendensi menaik
Disamping kelemahan politik, perilaku keagamaan umat Islam pada masa itu merupakan factor yang paling mendorong munculnya gerakan ini. Pada umumnya, terutama di Semenanjung Arabia, telah terjadi distorsi pemahaman al-Qur’an. Semangat keilmuan yang pernah berkobar pada zaman klasik kini telah hangus dan digantikan dengan sikap fanatic dan kecenderungan mistis. Kemurnian Tauhid semakin terancam. Guru-guru, pemimpin rohani dikultusan, dijadikan perantara antar manusia dengan Tuhan. Kuburan dan barang-barang peninggalan orang tua dikeramatkan. Dengan rusaknya kemurnian tauhid, hubungan antara hamba dengan Tuhannya sudah menjadi kabur, hubungan antara sihamba dengan sesama manusia dan alam sekitarnya pun menjadi tidak terkendali. Amal ibadah yang tadinya murni kemasukan bermacam-macam bid’ah dan khurafat.
Dalam hal ini, Stoddard menggambarkan sebagai berikut; “Abad kejumudan ditandai dengan berbagai penyimpangan. Ketauhidan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. telah diselubungi oleh khurafat dan faham kesufian. Masjid-masjid ditinggalkan oleh golongan besar yang awam. Mereka menghias diri dengan azimat, penangkal penyakit. Mereka belajar kepada fakir atau darwisy dan menziarahi kubur orang-orang keramat untuk meminta sesuatu. Mereka memuja-muja orang itu sebagai orang suci dan perantara dengan Allah, karena menganggap dia begitu jauh bagi manusia biasa untuk pengabdian langsung. Orang sudah buta dengan akan akhalak dan sumber asli dari ajaran Islam yang menumbuhkan vitalitas hidup dan memberikan energy. Pendek kata kehidupan Islam telah lenyap, meninggalkan ritus tak berjiwa, dan kemunduran yang merata. Andai kata Nabi Muhammad hidup kembali dan menyaksikan apa yang terjadi pada umat Islam, pasti murkalah dan melontarkan pengikut-pengikutnya dengan murtad dan menyembah berhala. Kota Mekkah dan Madinah pun menjadi tempat penuh penyelewengan dan penyimpangan, ibadah Haji pun disalah gunakan”. [3]
M. Natsir, menambahkan dalam ceramahnya “Essensialia demokrasi dalam tata Negara, digantikan oleh feodalisme dalam bermacam-macam bentuk. Pegawai pemerintahan yang curang memeras dan merampas hak-hak rakyat. Petani dan orang kota patah semangatnya untuk bekerja dan berusaha baik pertanian maupun perdagangan jatuh merosot sama sekali”.
Di kalangan orang awam, gairah untuk melepaskan diri dari keadaan yang lumpuh itu sudah hilang. Bahkan ada slogan-slogan yang mendorong orang benci dunia, lari dari kenyataan dan keadaan. Ada hadits yang berbunyi: Al-dunya sijnu al-mu’min wa jannatu al-kafirin” (dunia adalah penjara bagi orang mu’min, dan surga bagi orang-orang kafir), dan ditambah dua kata: “Thalibuha kibalun”(dan orang-orang yang mencari dunia ialah ibarat seekor anjing). Inilah yang mendorong kepada orang mu’min supaya benci kepada dunia, kemudian orang-orang mu’min menyerah terhadap takdir.[4]
Gerakan Wahab dimotori olah para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permunsuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Isalm yang tidak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan.

   B.     Kelahiran Muhammad bin Abdul Wahhab
Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di Uyainah pada tahun 1115 H atau 1703, sebuah kota kecil di lembah Nejed. Suatu daerah yang waktu itu masih murni keIslamannya, daerah ini merupakan daerah bekas jajahan Turki, namun tentara Turki tidak menaruh perhatian terhadap daerah tersebut. Di daerah itu tidak diberikan wakil pemerintah yang elektif, sehingga kabilah-kabilah Arab yang mendiami daerah ini tetap hidup sebagai kelompok hang bebas dibawah pimpinan kepala-kepala suku. Apalagi dalam masa itu kebebasan dan kekuasaan Turki Usmani memang sudah merosot, karna tinggakah para pemimpinnya.
Mulanya Muhammad bin Abdul Wahhab dididik oleh ayahnya sendiri. Ayahnya seorang alim dari aliran madzhab Hanbali yang menjadi kadhi di negri itu. Puas akan gemblengan ayahnya, dan banyak dikaji fikih dalam aliran Hanbali, ia pergi ke Madinah dan berguru kepada Syekh Sulaiman Al-Kurdi dan Muhammad al-Sindi. Dari dua guru inilah Muhammad bin Abdul Wahhab memperoleh informasi tentang banyaknya bid’ah yang beredar dimasyarakat Islam.
Untuk memperluas pengalaman dan pengetahuan, Muhammad bin Abdul Wahhab merantau lagi ke beberapa negri. Di Bashrah selama 4 tahun, di Baghdad selama 5 tahun, di Kurdistan selama setahun, lalu ke Hamadhan selama 2 tahun, dan dilanjutkan ke Ishfahan untuk mempelajari falsafah dan tasawuf, kemudian pulang ke negrinya setelah singgah ke kota Qumm.

   C.    Pemikiran Wahabi
Sekembalinya ke Najed, ia mulai melakukan gagasannya untuk memperbaiki perilaku keagamaan masyarakatnya terutama dalam masalah akidah, ternyata konsep yang dibuatnya mendapat tantangan dari masyarakat sekitar yang merasa “kesucian” agama yang mereka yakini ternodai, menyadari akan gagal apabila tidak didukung oleh kekuatan, Ibnu Abdul Wahhab meninggalkan Najed, untuk mencari dukungan yang kuat dari kabilah lain.
Kepergian Ibnu Abdul Wahhab dari Najed kali ini merupakan “hijrah”nya yang ke dua, jika yang pertama untuk menuntut ilmu, namun kali ini ia pergi untuk menghimpun kekuatan guna mendukung misinya. Tujuannya adalah al-Daryah sebelah timur Riyadh, yang di huni Amir Muhammad bin Sa’ud. Ia adalah pemimpin dari dinasti Sa”ud yang kini berkuasa di Arab. Ibnu Abdul Wahhab memandang Amir Sa’ud sebagai orang yang moderat dalam berfikir dan memiliki ambisi untuk menguasai daratan Arabia. Pada tahun 1744 M tergalanglah sebuah kesepakatan antara keduanya untuk menjadi satu dalam sebuah gerakan.
Akidah-alidah poko dari gerakan Wahabipada hakikatnya tidak berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Perbedaanya hanya dalam menafsirkan beberapa persoalan tertentu. Akidah-akidanya dapat disimpulakn dalam dua bidang, yaitu bidang tauhid (pengesaan) dan bidang bid’ah.[5]
Inti ajaran yang dibawa Ibnu Abdul Wahhab sangat mempengaruhi ajaran yang dibawa oleh Ibni Taimiyyah dalam mengutuskan ajarannya dirasakan oleh Ibnu Abdul Wahhab tidak efektif. Maka ia mengambil sikap keras dengan menggunakan kekuatan.
Ada dua inti ajarannya:
a.       Kembali kepada ajaran yang asli (ajaran Islam yang dianut dan dipraktekkan Nabi Muhammad saw, sahabat, tabiin)
b.      Prinsip yang berhubungan dengan masalah tauhid
Pemikiran yang dicetuskan oleh Ibnu Abdul Wahhab ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap suasana ketauhidan yang telah dirusak oleh paham musyrik, bukan merupakan gerakan politik. Sebagai upaya pemurnian tauhid ini, secara khusus Ibnu Abdul Wahhab menyusun kitab “at-tauhid” yang memuat pandangannya sekitar tauhid, syirik, dan lain” yang menyangkut masalah akidah Islam. Menurutnya, kalimat “Laa Ilaha Illa Allah” tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dimanistasikan dengan “Laa Ma’bud Illa Allah”.
Dalam mengartikan ayat Al-Qur’an, Ibnu Abdul Wahhab terkesan majassimah (antropomorsif) karna tidak membolehkan takwil. Sebenernya ia pun menolak tajassimah. Ia hanya menerima al-qur’an secara harfiah dan tidak menanyakan lebih lanjut. Mengenai sifat Tuhan, ia menolak Tuhan memiliki sifat dan menerima sifat terlepas dari Tuhan, tetapi jangan menanyakan bagaimana sifat itu.[6]
Kaum wahabi beranggapan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Ma’bud (Yang ditujukan ibadah kepada-Nya), tak ada Mabdu’ selain-Nya. Dan sama sekali tidak boleh adanya ibadah kepada sesuatu apapun selain –Nya. Pengertian seperti itu semuanya,ditandaskan oleh Al-Qur’an, Sunnah Akal dan Ijma’.
Secara umum tujuan gerakan wahabi adalah mengkikis habis segala bentuk Takahyul, bid’ah, Khurafat dan bentuk penyimpangan pemikiran dan prakik keagamaan umat islam dinilai telah keluar dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Ada beberapa dokrin atau ajaran dalam praktik gerakan ini yaitu sebagai berikut:
Menurut penuturan KH. Sirajuddin Abbas, praktik ajaran wahabi di Makkah dan madinah antara lain:
1.      Semua objek peribadatan selain Allah adalah palsu dan siapa saja yang telah melakuknnya harus dihukum mati atau dibunuh.
2.      Mengunjungi kuburan 0rang-orang suci bukanlah bertauhid tapi Musyrik
3.      Tdak boleh membunyikan radio
4.      Tidak boleh melagukan kasidah dean meragukan bacaan Al-Qur’an
5.      Tidak boleh mengkaji sifat wajib dan Mustakhil Allah
6.      Perayaan maulid dan ziarah nabi temasuk bid’ah
7.      Berdo’a dengan tawasul
Selain praktik ajaran Wahabi diatas masih banyak praktik-praktik yang sangat betrentangan dengan mayoritas Umat Isalm yang ada di Dunia. Maka disinilah letak keradikalan Wahabi yang mana bersikukuh untuk merubah secara cepat dengan faham mereka. Mereka tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk mneyebarkan faham yang mereka miliki agar diterima dalam suatu masyarakat.
Yang menjadi sebuah permasalah ketika kaum wahabi beranggapan bahwa manusia yang tidak sesuai dengan apa yang mereka fahami dengan melakukan tradisi-tradis yang mereka anggap salah, maka mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah bid’ah dan mengatakan bahwa semua bid’ah adalah buruk, manakala ulama’ tau tentang tradisi itu dan tidak melarangnya maka mereka dianggap murtad dan masuk neraka. Inilah jalan wahabi yang gemar mengkafirkan ulama’ Islam.



BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Awal mula gerakan ini dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Yang mana dia beranggapan bahwa Islam telah menyimpang jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya, dari situlah dia termotifasi untuk membuat gerakan yang mampu memurnikan segara bentuk kesesatan yang telah menyimpang.
Muhammad bi Abdul Wahab lahir di Uyainah, ia di dikik langsung oleh ayahnya sendiri yang notabennya adalah penganut mazhab Hambali, kemudian ia belajar ke Makkah dan Madinah dan berguru di beberapa ulama’. Kemudian kembali ke kampung halamnnya.
Ini dari ajaran Wahabi adalh pemurnian agama islam tanpa ada tahayul, bid’ah dan khurafat. Dengan mengembalikan semua hukum ke Al-Qur’an dan Sunnah. Tanpa adnya dasaran keduanya mereka beranggapan bahwa itu merupakan Bid’ah. 






DATAR PUSTAKA
Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam Dari Masa ke Masa (PT Bina Ilmu, Suarabaya: 2006)
Nasir, Sahihan, Pemikiran Kalam Teologi, (Jakarta, Rajawali Press, 2010),
Ensiklopedi Islam, (PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarata: 2005)





[1] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam Dari Masa ke Masa (PT Bina Ilmu, Suarabaya: 2006) hal.420
[2] Ensiklopedi Islam, (PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarata: 2005) hal.226
[3] [3] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam Dari Masa ke Masa (PT Bina Ilmu, Suarabaya: 2006)  hal 421
[4] Ibid. hal 422
[5] Nasir, Sahihan, Pemikiran Kalam Teologi, (Jakarta, Rajawali Press, 2010), hal 292
[6]Ensiklopedi Islam, (PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarata: 2005) hal. 228